
Nuryanto yang merupakan pemilik ālidiah Artā, tidak pernah mati pemikiran-pemikiran besarnya, terutama dibidang seni dan budaya. Pemuda yang banyak menelurkan ide kreatifnya tersebut mampu menghidupi masyarakat yang ada disekitar Borobudur, lewat beberapa karya seninya.
Mungkin anda akan bertanya konsep āKlambi Sing Dibatikā, dengan kain yang dibatik. Adakah perbedaanya? Ternyata konsep dasar dari pembuatannya itu sangat besar, karena kalau memakai konsep āKlambi yang dibatikā adalah sudah berwujud pakaiaan baru dibatik, sementara kebanyakan kain dahulu kemudian setelah menjadi batik baru dibuat pakaian. Konsep dasarnya adalah agar masyarakat luas bisa memiliki atau harga terjangkau dimasyarakat. Itulah sekelumit dari ide besar seorang Nuryanto. Berikut wawancara dengan beliau disela-sela kesibukanya yang luar biasa, mengelola ālidiah artā, didesa Jowahan, Borobudur. Berikut petikan wawancaranya kurang lebihnya kami sajikan berikut ini:

Pendapat anda tentang batik bagaimana?
Batik ini menurut saya merupakan sebuah karya anak bangsa dan sudah diakui oleh Badan Dunia (Unesco) sebagai karya yang sangat memiliki sosial yang tinggi. Karena dengan kita memakai batik yang kita pakai sekarang ini, dilakukan oleh ratusan bahkan mungkin ribuan untuk mendapatkan sebuah pakaian batik yang kita kenakan. Taruhlah contoh, untuk mendapatkan kain mori, dibutuhkan kepompong, kepompong (Ulat), dipelihara memerlukan makanan dari tanaman, dilakukan oleh seorang petani, kemudian petani dijual melalui pedagang, dilakukan pemintalan, setelah jadi kain, dilakukan pembuatan pakaian, setelah jadi kain dilakukan design gambar untuk pembuatan batik, kemudian dicanting (pola gambar), kemudian pewarnaan, masih banyak yang lainnya. Kalau kita runut, ini semua akan memerlukan jumlah tenaga kerja yang sangat banyak. Inilah sesuatu yang saya katakan mempunyai nilai sosial yang tinggi. Ini kita sadari, ini karya besar anak bangsa yang harus kita hargai.
Konsep anda tentang Batik?
Saya mempunyai ide bahwa batik harus bisa dimiliki oleh semua kalangan masyarakat, baik atas menengah ataupun bawah. Nah konsep ini kemudian tertuang dalam āKlambi Sing di Batikā, ini mengandung arti bahwa jika biasanya untuk mendapatkan pakaian batik, pola itu sudah ada selembar kain, namun kalau memakai konsep ini, sebelum membatik, pakaian/baju sudah terbentuk sehingga kemudian dilakukan proses membatik. Tentu ini, sangat menguntungkan dari segi harga karena jika dengan memakai kain, maka harga yang ditawarkan menjadi lebih mahal, namun jika memakai pakaian dahulu makaĀ harga menjadi murah. Semua adalah dilukis/digambar tidak dengan cetakan/printing, sebelum membatik tentu pola sudah digambar terlebih dahulu, keuntungan yang lain, gambar/pola batik jadi semakin simetris atau sesuai dengan keinginan kita, karena polanya sudah terbentuk terlebih dahulu, namun jika dengan kain dahulu, maka pola yang kita gambar akan menjadi semakin sulit terutama si penjahitnya. Dengan semua itu masyarakat bisa memakai/membeli baju batik dengan kualitas yang bagus tapi harga yang kompetitif.
Ā

Jadi perbedaanya yang mendasar ?
Kalau ini baju dibatik/dilukis, namun kalau kebanyakan kain dibatik baru dibuat pakaian.
Thema batik ini bagaimana?
Kami memakai thema arah budaya lokal, seperti āMandala Daun Bodhi, Stupa Daun Bodhi, teratai Daun Bodhi,ā sementara baru Borobudur dan tumbuhan sekitar. Namun juga ada mandala daun ketela, mandala daun Bodhi. Konsep utamanya tetap Borobudur. Tetapi juga dimungkinkan untuk kearah beberapa ikan-ikan yang ada di kali progo, seperti lukisan udang kali, ikan wader kali progo dan lain sebagainya.
Kog suka dengan thema alam bagaimana?
Karena alam itu sebenarnya palingĀ banyak memberi kepada kita, itu filosofinya. Kalau kita sudah terima tentu kita juga harus mengasih. Konsep terima kasih. Maka akan terjadi keseimbangan alam yang ada. Alam sudah memberi O2 (Oksigen) ini yang tidak dipikirkan oleh kita, maka kita juga harus mengasih kepada alam tersebut, ada kayu, daun-daunan, semua dikasih oleh alam tersebut kepada kita. Sementara ini kalau orang hanya mau terima-terima saja tidak mau kasih maka tidak ada keseimbangan, tunggu kehancurannya.
Kalau hari ini ada āHari Batikā itu, menurut anda?
Kalau menurut saya itu bisa sebagai penyemangat saja, kita bangga mempunyai budaya khas batik. Karena berbicara batik itu ada filosofinya, contoh batik pesisiran, warnanya banyak tumbuhan laut, warna tegas, seperti orang pesisiran yang tegas, karena harus berjibaku denngan laut lepas, kemudian Batik Ndaleman, batik ini kearah Yogyakarta, Solo. Batik ini seperti Sido asih, sido mukti,taruntung,parang. Ini arahnya dalem,misal sido asih untuk orang nikahan, supaya tali kasih,harapanya orang yang akan dinikahkan ini sampai anak cucu. Ada juga batik kawung menggambarkan bunga yang merekah, bertebaran calon-calon bunga, harapanya akan memberikan manfaat yang luas kepada orang lain. Batik Yogyakarta memiliki beberapa motif khas, termasuk batik yang digunakan di lingkungan Keraton Yogyakarga. Batik keraton memiliki tampilan warna dasar yang putih bersih. Pada motif batik ini, terdapat banyak doa dan harapan bagi penggunanya. Salah satunya adalah motif ceplok, grompol. Dengan ragam desain geometris berdasar pada pola bunga mawar atau bintang misalnya, batik ini melambangkan harapan baik bagi pengantin yang menggunakannya. Pada batik Yogyakarta, terdapat pula motif yang melambangkan kewibawaan, kekuasaan, serta kebesaran pemakainya. Motif ini dikenal dengan motif parang, keris, atau pedang.Ā Beberapa motif parang hanya digunakan oleh para raja dan keturunannya, dan digolongkan dalam jenis batik larangan.
Kalau Konsep Batik ini?
Konsep Mandala Borobudur, artinya Konsep Mandala itu luas, sehingga harapan kita dengan adanya Borobudur ini mampu memberikan manfaat yang luas. Meskipun sebenarnya thema alam, kita juga memperlihatkan thema āthema yang lain, seperti mandala daun bodhi, mandala bunga kelapa, yang banyak dihinggapi tawon-tawon itu semua bisa menjadi thema-thema kita. Semua harus kita jalankan kita lakukan untuk mempraktekkan ilmu pengetahuan, lewat thema-thema tersebut. āSelamat Hari Batik Nasionalā***) Widodo Anwari