Kembali

Keterlibatan Interaksi Orang Tua dalam Menghadapi Kegiatan Pembelajaran Daring

Keterlibatan Interaksi menurut Edmund Husserl dalam e-journal Communication Research berjudul Interaction Involvement: A Fundamental Dimension of Interpersonal Communication Competence, adalah sebuah konsep intensionalitas yang memberikan perspektif konseptual komunikasi interpersonal, serta menyarankan gagasan komunikasi tatap muka (Cegala, 1978). Di masa pandemi covid-19, para pelajar masih melaksanakan kegiatan pembelajaran secara daring (tidak tatap muka). Dalam KBBI, daring adalah kegiatan yang harus terhubung melalui jaringan internet. Pelaksanaan pembelajaran secara daring kemudian membuat orang tua sebisa mungkin harus memantau sang anak, terutama bagi anak yang masih duduk di bangku SD.


Peran orang tua menjadi penting ketika semua proses pembelajaran dilaksanakan di rumah dan orang tua lah yang berhadapan langsung dengan anak (tatap muka), hal tersebut karena komunikasi antara anak dengan guru hanya berjalan dengan pola komunikasi sekunder. Pola komunikasi sekunder sendiri adalah sebuah komunikasi yang digunakan oleh guru ketika masa pandemi akibat terhalangnya proses pembelajaran secara tatap muka, dan beralih ke pembelajaran secara daring dengan memanfaatkan teknologi yaitu gawai untuk berkomunikasi dengan muridnya. Orang tua selanjutnya dituntut untuk berperan sebagai sosok yang komunikatif kepada anaknya dalam proses kegiatan pembelajaran daring. Orang tua yang berinteraksi dengan anak dalam sebuah situasi tertentu, akan mewujudkan sebuah hubungan yang saling terkait satu sama lain. Hubungan tersebut ke depannya akan mengarah ke dalam tujuan yang diharapkan yaitu prestasi belajar anak.  

Sebagai orang tua, peran untuk membantu anak memperoleh prestasi belajar harus dilakukan dengan baik. Peran orang tua ketika sebelum pandemi dan setelah pandemi ada beberapa hal yang membedakan. Sebelum pandemi, bentuk dukungan untuk meningkatkan semangat belajar anak yaitu dengan mendampingi saat tertentu saja seperti ketika mengerjakan tugas. Akan tetapi, setelah pandemi mengakibatkan cara komunikasi orang tua kepada anaknya harus lebih ditingkatkan untuk menjaga semangat belajar anak karena proses pembelajaran dilakukan secara daring atau tidak langsung. Pendampingan tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa anak sudah memahami dan tahu materi yang disampaikan guru serta tugas yang diberikan sehingga tidak akan tertinggal materi pelajaran yang telah diberikan oleh guru.

Pola komunikasi verbal yang dilakukan orang tua dengan anak juga harus bisa membangkitkan semangat belajar. Maka dari itu, dibutuhkan cara berbicara yang halus atau tidak kasar dan memberikan nasihat yang membangun kepada anaknya. Setelah adanya kegiatan pembelajaran secara daring, meskipun pengerjaan tugas bisa diselingi dengan bantuan internet, orang tua tetap harus memantau supaya anak tidak bergantung terus-menerus dengan internet yang akan membuat anak mengabaikan materi atau bahan bacaan dari buku.

Dengan adanya keterlibatan interaksi dari orang tua dan pola komunikasi yang diterapkan sesuai, akan terlihat efektif atau tidaknya ketika sudah sampai di tahap penerimaan nilai. Oleh karena itu, diharapkan orang tua juga bisa terlibat dalam proses kegiatan pembelajaran secara daring. Akan tetapi, intensitasnya harus disesuaikan agar anak tidak merasa selalu diawasi yang akan membuatnya merasa tidak nyaman. Hal tersebut erat kaitannya dari setiap pribadi orang tua dalam mengenali bagaimana tipe belajar yang disukai oleh anaknya untuk bisa diterapkan.***)Indah Kurnianingrum -Mahasiswa Magang UNS

Â