


Kota Mungkid, 5 April 2016. Berbagai kalangan di Indonesia belakangan sibuk membicarakan isu LGBT di Tanah Air. Hal tersebut terutama berkaitan dengan ramainya berita di media menyangkut kasus-kasus hubungan seksual sesama jenis belakangan ini. Kenyataannya, masih banyak pihak yang menentang keberadaan lesbian, gay, biseksual dan transgender, baik itu dilandasi pandangan agama, secara etika, maupun dari segi kesehatan. Di Indonesia sendiri, sejauh ini hubungan dan pernikahan sesama jenis dilarang.
LGBT *(Lesbi Gay Biseksual Transgender*) adalah untuk menguatkan pemahaman tentang penyakit kejiwaan yang dapat disembuhkan. jika seseorang menyimpang dari fitrah seksual, akan menimbulkan berbagai problematika. Bukan hanya dari konteks psikologi, melainkan juga dapat terjadi peningkatan HIV-AIDS.
"Peningkatan penyakit menular seksual itu meningkat pada kelompok yang memang melakukan tindakan seksual yang tidak sesuai dengan fitrah," ucap Drs. Musowir. Saat memberikan kata sambutan mewakili Plt. Kepala Dinas Disdikpora di Hadapan Puluhan Anggota Karang Taruna se Kabupaten Magelang, dalam acara Pelatihan Manajemen Organisasi Karang Taruna Kabupaten Magelang Tahun 2016 di SKB Salaman.
Dalam sudut pandang berbeda, Drs Musowir juga mengatakan, bahwa LGBT tersebut merupakan gerakan internasional yang bisa dikatakan sebagai *proxy war* atau perang perwalian dari negara luar, dalam rangka memperlemah kondisi Indonesia.
"Mereka melakukan upaya-upaya agar sesama anak bangsa itu melakukan sebuah pertikaian," kata Drs. Musowir.
Karena itu, kata dia, LGBT butuh segera diatasi dan terdapat banyak metode untuk menanggulangi penyakit LGBT tersebut. Oleh Karena itu pihaknya mengharapkan peran karang taruna didalam menyikapi peristiwa tersebut.
“ Kami berharap peran karang taruna didalam menyikapi dan mengahapus LGBT di Kabupaten Magelang.” Tandas Drs. Musowir.
Kegiatan Pelatihan Karang Taruna itu sendiri merupakan agenda rutin yang dilakukan oleh Disdikpora Kabupaten Magelang. Sebagai upaya peningkatan kualitas organisasi untuk mengembangkan peran dan fungsinya secara optimal agar tercapai suatu kondisi dimana suatu organisasi bisa menjadi contoh serta sarana untuk memajukan masyarakat dengan memperbaiki manajemen organisasi terutama peran pemimpinnya.
Menurut Kabid Kepemudaan dan Olahraga, Drs. Hery Yusuf W, M.Pd, mengatakan bahwa Setelah mengikuti pelatihan ini para peserta akan mendapat pemahaman yang jelas mengenai kepemimpinan, kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan, gaya-gaya pribadi serta ketrampilan kunci seperti bagaimana menetapkan arah untuk sebuah kelompok, menguatkan perilaku produktif dan menghadapi permasalahan-permasalahan kinerja dengan percaya diri.
Adapun Peserta pelatihan manajemen organisasi adalah Organisasi Karang Taruna dari 21 Kecamatan di Kabupaten Magelang per kecamatan terdiri dari 2 (dua) Desa per Desa 1 putra dan 1 putri jumlah seluruhnya 84 orang *. ***) Widodo Anwari/Humas Protokol Kab., Magelang